Senin, 24 Desember 2012

Selasa, 18 Desember 2012

Beli di mana buku pelajaran bahasa Jerman Studio dA1?

Buku pelajaran Bahasa Jerman selalu berubah seiring waktu. Sewaktu jaman saya kuliah 1990-1996, saya menggunakan buku Themen. Lalu Themen diperbaiki menjadi Themen Neu. Terdiri dari 3 seri yaitu Themen Neu 1, 2 dan 3. Nah, kalau sudah selesai belajar menggunakan buku ini, baru deh bisa mengikuti ujian ZDaF (Zertifikat Deutsch als Fremdsprache) yang sekarang berubah menjadi ZD (Zertifikat Deutsch).

Beberapa tahun yang lalu, Goethe Institut mengganti Themen Neu dengan buku Studio dA1 hingga dB2. Buku ini lebih ringan dan lebih mudah dibanding dengan buku Themen Neu. Lagipula sesuai dengan tingkat ujian yang disediakan. Artinya, untuk persiapan ujian A1 atau kalau mau lulus ujian A1, belajarlah memakai buku Studio dA1. 

Jadi, kalau ada guru bahasa Jerman kalian tidak pakai buku ini atau paling tidak memakai Themen Neu, jangan mau ya. Karena buku tersebut sudah ketinggalan jaman. Kecuali kalau belajarnya di Jerman atau Austria, karena setiap Sprachschule (tempat kursus bahsa) di sana, bisa jadi punya buku tersendiri sesuai kurikulumnya. Atau  SMA di Indonesia menggunakan buku Kontakte Deutsch. 

Sewaktu saya di Austria November 2012 lalu, saya menginap di rumah staf KBRI. Istri beliau kursus bahasa Jerman di Universitas Wina dan menggunakan buku ini.    



Buku Studio dA1 biasanya ada di Toko Buku Gramedia Matraman. Kalau di toko buku lain sepertinya gak ada deh, bahkan tidak semua Gramedia menyediakan buku ini. Maklum, pembelajar bahasa Jerman kan tidak banyak, jadi stoknya juga tidak banyak. Penerbit buku Studio dA1 hanya memasok keperluan Goethe Institut saja.   

Berhubung ada saja yang bertanya di mana bisa membeli buku Studio dA1 termasuk para murid saya, saya sekarang bantu para pembelajar bahasa Jerman di blog saya ini dengan menyediakan buku tersebut. 

Harganya satu set Rp 250.000,-, sama dengan harga di toko buku Gramedia. Tapi harga ini di luar ongkos kirim, ya. Satu set terdiri dari 1 buku pelajaran, 1 buku latihan dan 1 CD untuk pembelajar. Sudah dipak plastik oleh penerbitnya. Kirimnya nanti lewat TIKI/JNE. 



Buku pendampingnya 'Vokabeltaschenbuch' atau buku saku kosa kata harganya Rp 30 ribu. Isinya daftar kata yang ada dalam buku pelajaran Studio dA1 berikut artinya. Di Gramedia, sepertinya tidak dijual. Buku ini boleh beli, boleh tidak. Kalau sudah cukup dengan kamus, yah sudah, tidak usah beli. 

Buku-buku lain yang tersedia: 
1. Kamus kecil Langenscheidt, Rp 30 ribu/buah.
2. Studio dA2, Rp 300ribu/set.
3. Studio dB1, Rp 300 ribu/set.
4. de el el, tergantung stok
Saya bisa dihubungi di 0858 1122 7868 (jangan SMS), pin BB 27ec901c.

Euro, uangnya Jerman dan Eropa

Pasti sudah pada tau ya bahwa di Jerman dan 12 negara Eropa lainnya mata uang yang digunakan sama yaitu Euro (dalam bahasa Jerman dibaca 'oiro').

Negara-negara di Eropa yang menggunakan Euro adalah Belgia, Jerman, Finlandia, Perancis, Yunani, Belanda, Irlandia, Italia, Luxemburg, Austria, Portugal, Slovakia dan Spanyol. Kurang lebih 200 juta orang menggunakan Euro. Banyak juga ya, tapi yang menggunakan rupiah lebih banyak lagi, lho, karena penduduk Indonesia saja jumlahnya sudah 240 juta orang, he he he.

Uang Euro milik saya sewaktu ke Austria bersanding dengan pelajaran mengenai Euro di buku Studio dA1. Saya punya hampir semua koin yang ada dalam buku ini. 

Yang menarik, uang lembaran Euro (die Euroscheine) sama baik gambar, bentuk dan ukurannya di semua negara tersebut. Tetapi untuk uang koinnya (Münze) berbeda-beda di setiap negara. Masing-masing negara memiliki koin yang merupakan simbol dari negara mereka. Tetapi semua koin tersebut berlaku di 13 negara pemegang Euro.

Di buku Studio dA1 halaman 23 terdapat informasi mengenai hal tersebut. Pelajaran mengenai budaya di negara yang bahasanya sedang kita pelajari dsebut dengan Landeskunde. 

Inilah yang mendorong saya sewaktu di Austria untuk mencari, menahan bahkan rela menukar uang demi mengkoleksi koin Euro dari setiap negara. Nah, jadi hasilnya mulai hari ini (18/11/12) saya bisa menunjukkan kepada murid Euro yang sebenarnya, bukan cuma gambar saja, he he he. Tapi memang saya dasarnya adalah kolektor koin dari berbagai negara. 

Ada kejadian lucu, seorang trainer di Austria kemarin, begitu tau cita-cita saya langsung memberikan saya koin Euro dari Yunani, karena koin Euro dari Yunani agak jarang beredar. Dan dia bilang, setelah ini dia juga harus berburu Euro Yunani untuk dikoleksi. Ada yang tau kenapa? Karena saat ini, Yunani sebagai negara yang menjelang bangkrut dan mungkin harus keluar dari zona Euro. Nah, saat itulah koin Euro Yunani tidak diproduksi lagi. He he he, betul juga ya pendapat beliau itu.

Meski bentuknya sama, tetapi nilai suatu barang ternyata berbeda-beda di negara-negara tersebut. Misalnya, ketika saya membeli sebuah majalah, di sana tertera Deutschland € 2,20, Österreich  € 2,55, BeNeLux € 2,60, Italien € 2,60, Slowenien € 2,55, Slowakei € 3,00. 

Saya tidak paham kenapa harganya bisa berbeda-beda untuk barang yang sama. Bisa jadi karena kekuatan ekonomi negara tersebut. Yang terjadi kemudian, kadang-kadang di perbatasan negara (tidak ada perbatasan semacam tembok, kadang hanya semacam tugu saja) orang dari negara A berbelanja barang X di negara B, sedangkan orang di negara B berbelanja barang Y di negara A, karena lebih murah.   
    

Selasa, 11 Desember 2012

Kamus Jerman - Jerman

Saya sudah meng-upload beberapa jenis kamus, ya. Mulai dari kamus Jerman - Indonesia, Indonesia - Jerman, Kamus Indonesia - Jerman vis a vis terbitan Langenscheidt yang mungil itu juga kamus online bahkan kamus di Blackberry. Lumayan lengkap, kan.

Kali ini saya meng-upload cover kamus Jerman - Jerman. Kamus ini keluaran penerbit Wahrig. Saya beli kamus ini tahun 1992 (saya ingat, karena saya selalu menulis tanggal pembelian di hampir semua koleksi buku-buku saya) :D Harganya masih Rp 15.000,-

Kamus Jerman - Jerman terbitan Wahrig

Kamus ini digunakan kalau sudah selesai B1, jadi ketika mau masuk kelas B2. Kalau masih pemula, jangan pakai kamus ini dulu ya. Kalau mau beli, apalagi kalau lagi diskon, silahkan saja. 

Saya dulu pernah ditawari dosen (orang Jerman) kamus Jerman - Jerman terbitan Langenscheidt, harganya waktu itu masih Rp 40.000,- (tahun 1992), tapi saya tolak karena baru beli kamus ini. Nyesel juga sih ya, karena saya kolektor buku. 

Bagusnya kamus Jerman - Jerman, baik terbitan Wahrig maupun Langenscheidt adalah kamus ini menyediakan contoh-contoh kalimat dari suatu kata kerja. 

Misalnya:
Mana kalimat yang benar? Ich bedanke mir bei dich atau Ich bedanke mich bei dir?

Yang benar adalah Ich bedanke mich bei dir

Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sama saja, Saya berterima kasih kepadamu. Tapi pola kalimat bahasa Jerman tidak bisa begitu. 

Kata berterima kasih dalam bahasa Jerman adalah danken atau sich bedanken. Sich bedanken termasuk kata kerja reflexive yang didamping preposisi tertentu yaitu bei

Nah, preposisi bei membutuhkan Dativ dan makna bei di sini artinya kepada, bukan ada di, karena di sini bei tidak bermakna lokasi (lihat postingan tentang preposisi). 

Boleh enggak diganti dengan preposisi lain misalnya auf? Jawabannya sudah pasti, gak bisa lah yaww. Pola ini sudah paten, jadi wajib dihafalken.    

Nah, di kamus Jerman-Jerman ini akan disebutkan contoh-contoh lainnya. Jadi gak boleh ngasal atau ngarang-ngarang, kalau ketemu satu kata kerja baru. Mbah Goethe bisa ngamuk-ngamuk, nih. 


Rabu, 05 Desember 2012

Souvenir piring pajangan dari Austria


Jum'at 30 November 2012 sore, saya tiba di tanah air setelah mengikuti training Electoral Assistance atas beasiswa dari pemerintah Austria.

Wah, Jakarta ternyata panas ya, bahkan di dalam ruangan ber-AC di bandara Soekarno - Hatta pun saya kegerahan. He he he, jelas saja, ketika saya meninggalkan Wina Kamis, 29 November 2012 temperatur di sana 8˚C. Transit di Doha, Qatar temperaturnya 20˚C. Tiba di Jakarta, temperatur Jakarta 31˚C.

Dua hari istirahat di dalam rumah (bener-bener di dalam rumah), selain jetlag, jadi harus mengeset ulang jam tubuh (Jakarta 6 jam lebih awal daripada Austria), juga saya demam ringan karena perbedaan temperatur yang drastis itu. Dua hari setelah itu, tubuh saya terus menerus mengucurkan keringat, padahal biasanya saya tahan panas Jakarta, maklum deh kan orang Jakarta dan dari negara tropis. 

Oleh-oleh? Ha ha ha, maaf kalau souvenir pernak-pernik saya gak beli, gak mampu beli. Biaya hidup dan barang-barang di Austria cukup tinggi buat kantong saya. Harga sebotol Coca Cola kalau minum di hotel harganya 2,2 Euro alias hampir Rp 25 ribu, kalau beli di mini market harganya 1,90 Euro, tapi saya jarang ke minimarket. Selain agak jauh, kadang-kadang pas trainingnya selesai, pas waktunya minimarket tersebut tutup. 

Kurs saat ini, 1 Euro = Rp 12.300. Sekali makan malam, saya menghabiskan 7 - 10 Euro atau 80 ribu - 125 ribu. Wow, di Jakarta budget saya makan antara Rp 10 ribu - 25 ribu saja atau kalau lagi nongkrong di Cafe 25 ribu - 100 ribu.


Beruntung ada sejumlah teman, orang Indonesia yang suaminya orang Austria, yang bisa ditumpangi setelah training. Jadi bisa agak lama di Austria.  Biaya menginap di Youth Hostel 18 Euro semalam, itupun untuk kamar untuk 12 orang. Kebayang deh, berapa yang harus dibayarkan kalau kamar sendiri.

Souvenir-souvenir ini sih titipan mereka yang ingin berbisnis kecil-kecilan dan sekali-sekali pulang ke Indonesia, jadi kami kongsian lah ceritanya. Nanti mereka akan jualan pernak-pernik Indonesia di Austria, jadi bisnis kecil-kecilan lintas benua :D

Piring kecil dengan gambar sejumlah bangunan bersejarah di kota Wina, Austria ini merupakan salah satu souvenir wajib bagi para turis dan pengunjung kota Wina.  Saya beruntung sudah mengunjungi sebagian besar tempat yang ada di dalam piring ini.

Piring mungil ini unik dan bisa dijadikan pajangan di lemari pajangan atau meja konsol. Diameternya kurang lebih 10 cm kurang sedikit. Hati-hati ya, kalau masih ada anak kecil di rumah. Letakkan di tempat yang sulit dijangkau oleh mereka. Ada juga tempelan kulkas, yang akan diposting berikutnya.

Piring mungil bergambar sejumlah obyek wisata utama di kota Wina. 

Piring mungil bergambar istana Schönbrunn. 
Schönbrunn merupakan istana musim panas kekaisaran Habsburg. Istananya luas dan cantik. Memiliki 1441 ruangan dengan gaya arsitektur Rococo. Dibangun mulai tahun 1569 sebagai sebuah benteng kemudian ditambahi dengan taman-taman, hutan untuk berburu keluarga kerajaan dan diketemukannya mata air (Brunn). Inilah asal muasal nama dan penggunaan Schönbrunn yaitu tahun 1642. Sejak tahun 1960-an, istana ini menjadi salah satu obyek turis utama di kota Wina. 


Jika berminat, silahkan hubungi 0858 1122 7868 (Pipit). Harga piring ini Rp 150.000 sudah termasuk penyangganya dan ongkos kirim via TIKI, tapi hanya untuk wilayah Jakarta saja, untuk wilayah di luar Jakarta, harus tambah ongkos kirim tetapi dikurangi Rp 5 ribu. Biar adil, he he he.

Piring akan dibungkus oleh kotak seperti kotak sepatu ukuran kecil dan dilapisi oleh plastik bergelembung yang biasa digunakan untuk barang elektronik untuk mencegah pecah atau rusak saat pengiriman. Kalau tinggal di Jakarta, kita bisa janji ketemuan di suatu tempat, misalnya di Plasa Semanggi.   

Oh ya, piring dengan model ini cuma ada satu piece saja. Hampir semua souvenir lainnya juga cuma satu piece saja. Karena kami masih coba-coba dan melihat pasar dulu.