Tampilkan postingan dengan label kuliah di Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah di Jerman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2013

Mencari beasiswa ke Jerman

Liebe Freunde,
ada sejumlah email yang masuk dan bertanya tentang peluang mendapatkan  beasiswa kuliah di Jerman. Jujur saja saya tidak tahu. Kalau tahu, saya akan mendaftar terlebih dahulu, he he he.

Di depan Universität Wien, mumpung melewati salah satu universitas tertua di dunia. Cuma berfoto-foto saja, baru jam 4 tapi sudah gelap, karena saat itu musim gugur.

Salah satu alasan saya kenapa saya kuliah jurusan bahasa Jerman adalah agar mendapat beasiswa ke Jerman. Begitu kuliah, saya harus menerima kenyataan bahwa beasiswa tersebut tidak ada, sekalinya ada sangat terbatas. Jadi saya harus berpuas diri dengan hanya mendapat beasiswa kursus di Goethe Institut selama beberapa tahun dan beasiswa Super Semar di kampus. 

Untuk mahasiswa IKIP Jakarta (sekarang UNJ atau Universitas Negeri Jakarta) biasanya mendapatkan kesempatan ke Jerman selama beberapa bulan. Tetapi saya tidak paham kriteria mereka yang mendapatkan beasiswa, tahu-tahu sudah ada aja senior, teman seangkatan dan adik kelas yang berangkat ke Jerman mendapatkan beasiswa dari Goethe Institut. Tapi saya yakin, suatu hari saya akan ke Jerman atau ke Eropa meski tidak dibantu oleh Goethe Institut atau kampus saya. 

Beasiswa yang paling mudah tentu saja dari Yayasan Orang Tua Tercinta. Tapi bagaimana jika orang tua kita tidak mampu menyediakan 8000 Euro sebagai jaminan kuliah ke Jerman? 

Ada beberapa cara. Yang pertama adalah dengan menjadi Au Pair atau kakak angkat. Sejumlah orang menganggapnya baby sitter, padahal bukan, meski sama-sama menjaga anak kecil. Posisi Au Pair dalam sebuah keluarga Jerman adalah setara dengan anggota keluarga yang lain. Jam kerjanya juga hanya beberapa jam, biasanya 8 jam sehari, dan hari Sabtu Minggu mendapatkan libur. Au Pair juga berhak kursus bahasa Jerman dengan biaya dari orang tua angkatnya. 

Banyak mahasiswa Indonesia mencoba ke Jerman dengan cara ini. Modalnya cuma bahasa Jerman level A1 dan tiket pesawat, lalu mencari orang tua angkat di www.aupair.com. 

Bedanya dengan TKW dan TKI yang umum adalah, kita bisa memilih orang tua kita, karena orang tua akan mencantumkan foto mereka dan anak yang akan dijaga. Kalau sudah cocok, mereka akan mengirimkan kontrak kerja. Kontrak kerja adalah hal yang wajib, kalau tidak ada kontrak kerja ini, jangan harap Kedubes Jerman akan memberikan visa. Beda dengan TKW dan TKI, karena sekali lagi, Au Pair bukan tenaga kerja baby sitter atau pembantu. 

Karena awalnya, program ini adalah pertukaran budaya yang dilakukan oleh anak muda antar negara di Eropa. Hanya karena permintaan akan Au Pair begitu tinggi, maka program ini dibuka untuk warga negara bukan Eropa. Dan orang Jerman atau Eropa kemudian lebih suka dengan orang Asia, karena orang Asia lebih care dengan anak kecil dibanding dengan anak muda peserta Au Pair dari  Eropa. 

Yang menarik, jika keluarga Jerman tersebut cocok dengan kita, mereka bisa menjadi sponsor kita untuk kuliah di Jerman. Jadi banyak mahasiswa Indonesia terutama yang jurusan bahasa Jerman menjadikan posisi Au Pair sebagai batu loncatan untuk kuliah di Jerman. Banyak yang sudah mencoba dan sukses, yang paling banyak mencoba cara ini kemudian adalah lulusan SMA dari kota Cirebon. Saya yakin, dua puluh tahun dari sekarang, Cirebon akan menjadi kota dengan lulusan Jermna terbanyak di Indonesia. 

Yang gagal ada juga, baik gagal memenuhi tugas setahun sebagai Au Pair atau ada juga yang harus pulang ke Indonesia setelah tugas sebagai Au Pair karena orang tua Jerman tidak mau menjadi sponsor mereka. Ada juga yang bertemu jodoh dan menikah dengan orang Jerman atau Austria. Salah satunya adik kelas saya, dan saya menginap di rumah mereka di Tulln, kota kecil dekat kota Wina, ketika saya ke Austria musim gugur 2012 lalu. 

Yang kedua, berkunjung ke beberapa website yang fokus pada beasiswa. Cobalah cari di google dengan kata kunci "scholarship Germany" atau scholarship dengan jurusan yang dituju atau kalau bahasa Jermannya sudah bagus, cari dengan kata kunci "Stipendium". Stipendium berarti beasiswa. Saya berlangganan  sebuah web beasiswa, tapi saya lupa namanya. Sayangnya, jurusan yang sering membuka kesempatan beasiswa adalah yang terkait dengan otak dan syaraf manusia. Jauh banget kan dengan bidang dan minat saya.

Ketiga, gak mesti Jerman kan? Karena kedutaan Swiss juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia. Coba cek website kedubes Swiss. Beasiswa diberikan untuk master di universitas negeri dan ada batasan usia yaitu di bawah 35 tahun. 

Ada pengalaman yang cukup menyebalkan untuk mendapatkan beasiswa dari kedutaan Swiss ini. Saya pernah mendaftar beasiswa ini dan menghubungi sebuah jurusan di universitas negeri di Swiss. Karena website menyebutkan, beasiswa diberikan jika diterima di universitas negeri di Swiss. 

Setelah memenuhi beberapa persyaratan termasuk membuat makalah dalam bahasa Jerman, saya diterima di universitas tersebut. Namun, ketika saya mengajukan beasiswa ke Kedubes Swiss, pegawai Kedubes Swiss (orang Indonesia) tersebut menolaknya, karena universitas dan jurusan tersebut tidak termasuk dalam daftar universitas yang bisa diberikan beasiswa. 

Padahal setahun sebelumnya, pegawai yang sama tidak memberikan kriteria jurusan mana yang akan mendapatkan beasiswa, jurusan mana yang tidak bisa mendapatkan beasiswa. Saya rugi menunggu setahun untuk proses pendaftaran dan penerimaan di universitas tersebut dan usia saya sudah tidak bisa mengajukan beasiswa lagi. 

Jelas saya murka sekali dengan pegawai tersebut yang salah memberikan informasi. Setahun kemudian saya menemukan nama pegawai tersebut dalam daftar peserta ujian B2 di Goethe Institut. Jangan-jangan dia ikut ujian  untuk ikut beasiswa tersebut atau mau menikah dengan orang Swiss. Sayang sekali, sama-sama orang Indonesia tetapi tidak mau membantu sama sekali.

Austria juga banyak memberikan beasiswa, tetapi saya tidak tahu dari mana para mahasiswa itu mendapatnya. Sepertinya kebanyakan dari lembaga pemerintah. Austria negara kecil dan tidak terlalu terkenal di Indonesia, sehingga mahasiswa Indonesia yang kuliah di Austria juga tidak sebanyak di Jerman. 

Yang perlu diperhatikan oleh teman-teman jika ingin mendapatkan beasiswa, dari negara atau pihak manapun adalah harus sabar dan rajin mencari informasi. Kedua, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita harus masuk ke dalam sebuah lembaga. Jarang sekali ada beasiswa untuk perorangan. Kecuali orang tersebut telah menjadi tokoh atau "seseorang" di negeri ini. DAAD atau Deutsche Akademiches Austausch Dienst memberikan beasiswa yang bersifat "G to G" atau "Government to Government". Jadi yang diberikan beasiswa adalah dosen dari Indonesia untuk kuliah atau melakukan penelitian di Jerman atau mengundang dosen atau peneliti Jerman untuk memberikan kuliah di Indonesia.

Saya mendapat beasiswa dari pemerintah Austria untuk training kepemiluan selama satu bulan pada Oktober-November 2012 yang lalu. Nama program tersebut adalah International Peacebuilding Training atau IPT yang diselenggarakan oleh Austrian Study Center for Peace and Conflict Resolution atau ASPR. 

Saya mendapatkan beasiswa tersebut karena kerja-kerja saya selama ini di Indonesia sebagai pemantau pemilu yang  tergabung dalam KIPP Indonesia (Komite Indonesia Pemantau Pemilu). Saya bergabung dengan KIPP Indonesia sejak tahun 1998 dan posisi saya sekarang adalah Kepala Departemen Hubungan Internasional. 

Sekarang pun saya sedang mencari beasiswa tetapi tidak untuk memperdalam bahasa Jerman, melainkan untuk Demokrasi dan Kepemiluan. Mungkin saya akan mencari beasiswa ke negara Jerman, mungkin ke negara lain di Eropa. 

Universitas Frankfurt memiliki jurusan yang saya minati dan salah satu pengajar di sana merupakan trainer saya di Austria, jadi bisa menjadi referensi saya. Mungkin juga saya akan melamar ke Manchester University di Inggris, karena ada jurusan yang saya minati di universitas ini dan saya sedang mencoba beasiswa Chevening. Who knows .... :)

Sabtu, 20 Oktober 2012

Program TV "Inovator" dari Deutsche Welle

Liebe Freunde,
sudah banyak yang tau Deutsche Welle ya, program TV dan radio dari Jerman. Bisa diklik di www.dw.de. Apa aja sih yang bisa didapat dari Deutsche Welle (DW)? Banyak banget. Saya sendiri seminggu sekali mendengarkan DW dalam bahasa Jerman untuk menjaga dan melatih kemampuan mendengar saya. 

Maklum deh, cari partner berbahasa Jerman di Indonesia kan tidak mudah. DW memungkinkan hal tersebut. Cuma untuk yang bahasa Jermannya masih level pemula masih agak sulit untuk memahami. Gak apa-apa, dengarkan saja, nanti lama-lama, telinga kita akan terlatih.



Kali ini DW membuat terobosan baru untuk pemirsa Indonesia yaitu dengan menghadirkan program TV bernama "Inovator", keine Sorge (jangan khawatir), programnya dalam bahasa Indonesia, kok.

Isi atau materinya menarik banget. Sesuai dengan namanya, "Inovator" program TV ini memfokuskan pada bidang sains dan teknologi, isu-isu lingkungan, gaya hidup dan ilmu kedokteran, riset terkini mulai dari teknologi luar angkasa, inovasi untuk meminimalisir berbagai akibat perubahan iklim, atau cara-cara mengobati masalah kesehatan. Ada juga sesi yang menceritakan gaya hidup di Jerman.

Yang paling saya suka dari program ini adalah wawancara dengan ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang bekerja di Eropa. Yeayyy, banyak lho orang Indonesia yang berkiprah di Eropa, bangga deh. Dan saya yakin, banyak pembaca dan pembelajar di blog ini dan akan ke Jerman untuk kuliah, suatu hari akan jadi nara sumber dalam program ini. Aamiin.

Durasi acara 26 menit dan hadir seminggu sekali di TVRI, Bali TV, Radar TV, Banten TV dan Tempo TV. 

Jadwal Tayang program "Inovator"

Stasiun Televisi
Jam
TVRI Daerah (Jakarta dan Banten)
Sabtu, 15.30 WIB
TVRI Nasional
Kamis, 10.00 WIB
Bali TV
Senin, 17.00 WIB, Jum'at 11.30 WIB (siaran ulang)
Tempo TV
Selasa, 19.30 WIB, Rabu 11.00 WIB (siaran ulang)
Radar TV
Kamis, 19.00 WIB, Senin 19.00 WIB (siaran ulang)
Banten TV
Jum'at 12.30 WIB, Senin 20.30 WIB (siaran ulang) , Selasa 07.00 WIB (siaran ulang)

Gak sempat nonton di TV, gak masalah, konten multimedia dari seri acara „Innovator“ dapat juga diakses secara online di www.dw.de/Indonesia.

Yuk, nonton "Inovator".


Minggu, 11 Maret 2012

Lado Educare

Hallo Freunde,

Hari ini saya akan memperkenalkan rekan kerja saya yaitu pak Yanuar Budiarso. Pak Yanuar adalah pemilik sekaligus Student Counsellor atau konsultan studi di lembaga Lado Educare. Lado Educare mengkhususkan diri mengurus keperluan studi di negara Jerman.

Lembaga kami bernama Lado Educare yang tadinya berlokasi di Graha Mandiri, Basement Floor, Jl. Imam Bonjol Kav.61, Jakarta Pusat, sekarang pindah ke Gedung Arthaloka, Jl Jend Sudirman Kav. 2, Jakarta Pusat atau lebih dikenal dengan Bank Muamalat, karena bank ini berkantor di lantai dasarnya. Cukup mudah dijangkau karena dilintasi banyak bis, dan di depan gedung terdapat halte busway. 

Layanan yang disediakan Lado Educare cukup lengkap. Dari pemberian informasi formal studies seperti ingin tahu apa sih yang dimaksud Studienkolleg? Apa bedanya Fachhochschule dan Universität? Berapa biaya kuliah dan biaya hidup di Jerman? Konsultasi gratis, kok, tenang saja. Penting lho untuk punya informasi yang komprehensif sebelum memutuskan kuliah di Jerman.

Layanan lainnya adalah :
1. German Course di Jerman
2. Study Tour
3. Training (biasanya kantor)
4. Pengurusan visa turis, mengunjungi pameran, seminar, atau jenis-jenis short visit lainnya.
5. Visa menikah dengan orang Jerman (orang Jermannya tidak disediakan ya, he he he)
6. Visa Long Stay
7. Translation dan Legalization dokumen-dokumen
8. Opening Bank Account
9. Travel Insurance
10. Pembelian tiket airline dan kereta api di Jerman
11. Penjemputan di Jerman, baik di bandara maupun di stasiun kereta api. Bandara dan stasiun KA di Jerman cukup besar, jadi buat yang belum pernah ke sana cukup bikin keder.
12. Persiapan penguasaan bahasa Jerman
13. Program Au Pair, semacam kakak angkat untuk anak di keluarga Jerman. Lumayan buat batu loncatan untuk kuliah di Jerman.

Selama ini, persiapan bahasa Jerman untuk siswa yang akan berangkat ke Jerman dipegang oleh saya. Tetapi karena kesibukan yang semakin meningkat, saya cukup keteteran. Saya mohon maaf untuk teman-teman yang sudah mengirim email atau menelepon tetapi belum atau tidak saya respon balik dengan cepat.

In kurz, selain dengan saya, juga bisa menghubungi pak Yanuar Budiarso saja, jika berminat untuk  kuliah ataupun keperluan yang lain terkait Jerman. 

Pak Yanuar bisa dihubungi di tel 021-2511535, fax. 021-2511536. HP: 0812 8489 0000, 0815 8489 0000.
Atau menghubungi saya: 
Ibu Pipit 0858 1122 7868, 0812 8115 0858 (bisa WA), 
pin BB 27ec901c.
Email: 
yanuarbudiarso@yahoo.com, 
ladoeducare@gmail.com, 
fit_3a@yahoo.com 

Viel Erfolg und Alles Gute!

Selasa, 01 Maret 2011

Biaya Les Privat Bahasa Jerman

Dalam acara Public Session EU (Uni Eropa) dalam rangka pembuatan proposal kegiatan, 22 Februari 2011

Karena banyak yang bertanya, berapa biaya kursus atau les bahasa Jerman dengan saya, baik melalui komentar di blog ini, SMS, telepon dan email, maka saya merasa perlu juga untuk menuliskannya di sini.

Saya membuka kursus bahasa Jerman mulai dari level A1 hingga B2 termasuk persiapan ujian setiap level tersebut.


Nurnberg, Oktober 2018

Rumah saya di jl. Pilar 2 no. 23 A Rt 3/3, Kedoya Selatan,  Jakarta Barat. Tidak jauh dari Metro TV. 

Jika berminat bisa menghubungi saya, ibu Pipit di 0812 8115 0858 (WA saja), atau email saja di fit_3a@yahoo.com. 


Nurnberg, Oktober 2018


Jika masih ada pertanyaan, silahkan.

Minggu, 07 Juni 2009

Guru Privat Bahasa Jerman

Nun, ich bin eine Deutschlehrerin, aber ich arbeite selbständig. Wer möchte Deutsch privat lernt, kann mich anrufen. 0812 8115 0858.

Saya seorang guru privat bahasa Jerman. Alumni IKIP Jakarta (Institut Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan) jurusan bahasa Jerman. IKIP Jakarta sekarang bernama UNJ (Universitas Negeri Jakarta) yang berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur. Jadi, kuliah saya memang dipersiapkan menjadi guru bahasa Jerman. Saya kuliah dari tahun 1990 dan lulus tahun 1996. Saya mengajar bahasa Jerman sejak tahun 1996. 

Jika anda butuh belajar bahasa Jerman untuk berbagai keperluan, mulai dari agar mengerti pelajaran bahasa Jerman di sekolah, untuk mendapatkan sertifikat A1 (bekerja di Jerman sebagai AuPair atau menikah dengan warga negara Jerman), untuk mendapatkan sertifikat B1 dan B2 untuk keperluan kuliah di Jerman, bisa menghubungi saya di 0812 8115 0858 (WA saja).  

Saya membuka kursus bagi mereka yang ingin belajar bahasa Jerman level A1 hingga B2, sekaligus persiapan ujian-ujian tersebut. 

Dimana lokasi belajar?
Lokasi belajar di rumah saya di jl. Pilar 2 no. 23 A Rt 3/3 Kedoya Selatan, Jakarta Barat. Saya bisa dihubungi via WA 0812 8115 0858. 

Kapan bisa belajar?
Untuk jam belajar, dapat kita diskusikan.

Berapa lama belajar bahasa Jerman untuk mendapatkan sertifikat? 
Tergantung kecepatan murid belajar. Standarnya adalah untuk memperoleh sertifikat A1, siswa diharapkan sudah belajar 120 jam pelajaran. Bisa lebih cepat atau lebih lambat dari waktu standar tersebut. Saya sendiri selalu mendorong siswa agar bisa secepat mungkin menguasai bahasa Jerman dengan rajin membaca buku pelajaran yang sudah ditentukan (sesuai standar Goethe Institut). Semakin cepat, semakin baik, semakin sedikit biaya yang dikeluarkan, semakin tenang untuk persiapan kuliah di Jerman. 

Ikuti FB Rumah Barley, ya.

Guten Tag,  Hari ini saya ingin mempromosikan akun FB saya yaitu Rumah Barley  Akun ini khusus tentang belajar bahasa Jerman dan Jerman.  Di...