Rabu, 27 Maret 2013

Warum liebe ich dich ?

Sekali-sekali kita romantis dengan belajar Gedichte atau Poesie ya. Dengan bahasa yang sederhana, kita bisa juga bergombal ria dengan orang Jerman, atau sebaliknya, jadi tahu kalau digombalin dengan orang Jerman.

Oh ya, banyak pujangga atau penyair dari Jerman mendapatkan hadiah Nobel sastra, jadi ada baiknya kita juga belajar sastra lewat puisi atau syair yang sederhana (sekaligus gombal) seperti ini. Sebelum kita masuk ke puisi dan syair yang serius seperti karya Goethe, Herman Hesse, dan lain-lain.   


Warum soll versucht werden, 

das Unerklärliche zu erklären?
Wie soll über eine geheimnisvolle,
wunderbare Liebe gesprochen werden?

Ich liebe dich, weil ich dich nötig habe,
Ich liebe dich in einer endlosen Liebe
Und ich erwarte,
dass du mich auch nötig hast . . .
Ich liebe dich, weil ich dich liebe,
Es ist so . . .  einfach so!

Wenn ich dich liebe, 
einfach weil ich es liebe, dich zu lieben,
wenn ich es lieb habe, dich lieb zu haben, 
wenn ich dich so verrückt haben will, 
was kann ich dem Himmel bitten? 
Dass es ewig dauert!

Ich liebe dich, weil ich dich liebe, 
Ich liebe dich in ener endlosen Liebe,
Ich liebe dich, weil ich dich liebe,
Es, ist so . . . einfach so! . . .

Supaya seru, saya akan buat pertanyaan terkait puisi ini. Dan agar adil dan semua bisa menjawab, satu orang menjawab satu pertanyaan saja ya.. Kalau menjawab lebih dari satu pertanyaan, meski benar, saya tidak akan upload komentarnya. (supaya kita stick dengan aturan) Pertanyaan akan ditambahkan bila perlu dan kalau saya punya ide untuk pertanyaan :)

Pertanyaan :
1. Judul: "Warum liebe ich dich?" Adakah yang bisa menjelaskan mengenai posisi kalimat ini?

2. Paragraf 2: "Ich liebe dich" Kenapa kata kerja setelah kata ich menjadi "liebe"? Apakah kata kerja dasar atau infinitiv dari kata "liebe"?

3. Masih paragraf 2: "Ich liebe dich". Dich berasal dari kata apa ya? Dan kenapa berubah menjadi dich? Apa nama kasusnya?

4. "Wenn, weil, dass" : Sebutkan jenis dan fungsi kata ini.

5. Masih "wenn, weil, dass" : Bagaimana pola kalimat yang menggunakan wenn, weil, dass? (Bisa dijawab setelah ada yang menjawab pertanyaan nomor 4)

Minggu, 03 Maret 2013

Mencari beasiswa ke Jerman

Liebe Freunde,
ada sejumlah email yang masuk dan bertanya tentang peluang mendapatkan  beasiswa kuliah di Jerman. Jujur saja saya tidak tahu. Kalau tahu, saya akan mendaftar terlebih dahulu, he he he.

Di depan Universität Wien, mumpung melewati salah satu universitas tertua di dunia. Cuma berfoto-foto saja, baru jam 4 tapi sudah gelap, karena saat itu musim gugur.

Salah satu alasan saya kenapa saya kuliah jurusan bahasa Jerman adalah agar mendapat beasiswa ke Jerman. Begitu kuliah, saya harus menerima kenyataan bahwa beasiswa tersebut tidak ada, sekalinya ada sangat terbatas. Jadi saya harus berpuas diri dengan hanya mendapat beasiswa kursus di Goethe Institut selama beberapa tahun dan beasiswa Super Semar di kampus. 

Untuk mahasiswa IKIP Jakarta (sekarang UNJ atau Universitas Negeri Jakarta) biasanya mendapatkan kesempatan ke Jerman selama beberapa bulan. Tetapi saya tidak paham kriteria mereka yang mendapatkan beasiswa, tahu-tahu sudah ada aja senior, teman seangkatan dan adik kelas yang berangkat ke Jerman mendapatkan beasiswa dari Goethe Institut. Tapi saya yakin, suatu hari saya akan ke Jerman atau ke Eropa meski tidak dibantu oleh Goethe Institut atau kampus saya. 

Beasiswa yang paling mudah tentu saja dari Yayasan Orang Tua Tercinta. Tapi bagaimana jika orang tua kita tidak mampu menyediakan 8000 Euro sebagai jaminan kuliah ke Jerman? 

Ada beberapa cara. Yang pertama adalah dengan menjadi Au Pair atau kakak angkat. Sejumlah orang menganggapnya baby sitter, padahal bukan, meski sama-sama menjaga anak kecil. Posisi Au Pair dalam sebuah keluarga Jerman adalah setara dengan anggota keluarga yang lain. Jam kerjanya juga hanya beberapa jam, biasanya 8 jam sehari, dan hari Sabtu Minggu mendapatkan libur. Au Pair juga berhak kursus bahasa Jerman dengan biaya dari orang tua angkatnya. 

Banyak mahasiswa Indonesia mencoba ke Jerman dengan cara ini. Modalnya cuma bahasa Jerman level A1 dan tiket pesawat, lalu mencari orang tua angkat di www.aupair.com. 

Bedanya dengan TKW dan TKI yang umum adalah, kita bisa memilih orang tua kita, karena orang tua akan mencantumkan foto mereka dan anak yang akan dijaga. Kalau sudah cocok, mereka akan mengirimkan kontrak kerja. Kontrak kerja adalah hal yang wajib, kalau tidak ada kontrak kerja ini, jangan harap Kedubes Jerman akan memberikan visa. Beda dengan TKW dan TKI, karena sekali lagi, Au Pair bukan tenaga kerja baby sitter atau pembantu. 

Karena awalnya, program ini adalah pertukaran budaya yang dilakukan oleh anak muda antar negara di Eropa. Hanya karena permintaan akan Au Pair begitu tinggi, maka program ini dibuka untuk warga negara bukan Eropa. Dan orang Jerman atau Eropa kemudian lebih suka dengan orang Asia, karena orang Asia lebih care dengan anak kecil dibanding dengan anak muda peserta Au Pair dari  Eropa. 

Yang menarik, jika keluarga Jerman tersebut cocok dengan kita, mereka bisa menjadi sponsor kita untuk kuliah di Jerman. Jadi banyak mahasiswa Indonesia terutama yang jurusan bahasa Jerman menjadikan posisi Au Pair sebagai batu loncatan untuk kuliah di Jerman. Banyak yang sudah mencoba dan sukses, yang paling banyak mencoba cara ini kemudian adalah lulusan SMA dari kota Cirebon. Saya yakin, dua puluh tahun dari sekarang, Cirebon akan menjadi kota dengan lulusan Jermna terbanyak di Indonesia. 

Yang gagal ada juga, baik gagal memenuhi tugas setahun sebagai Au Pair atau ada juga yang harus pulang ke Indonesia setelah tugas sebagai Au Pair karena orang tua Jerman tidak mau menjadi sponsor mereka. Ada juga yang bertemu jodoh dan menikah dengan orang Jerman atau Austria. Salah satunya adik kelas saya, dan saya menginap di rumah mereka di Tulln, kota kecil dekat kota Wina, ketika saya ke Austria musim gugur 2012 lalu. 

Yang kedua, berkunjung ke beberapa website yang fokus pada beasiswa. Cobalah cari di google dengan kata kunci "scholarship Germany" atau scholarship dengan jurusan yang dituju atau kalau bahasa Jermannya sudah bagus, cari dengan kata kunci "Stipendium". Stipendium berarti beasiswa. Saya berlangganan  sebuah web beasiswa, tapi saya lupa namanya. Sayangnya, jurusan yang sering membuka kesempatan beasiswa adalah yang terkait dengan otak dan syaraf manusia. Jauh banget kan dengan bidang dan minat saya.

Ketiga, gak mesti Jerman kan? Karena kedutaan Swiss juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia. Coba cek website kedubes Swiss. Beasiswa diberikan untuk master di universitas negeri dan ada batasan usia yaitu di bawah 35 tahun. 

Ada pengalaman yang cukup menyebalkan untuk mendapatkan beasiswa dari kedutaan Swiss ini. Saya pernah mendaftar beasiswa ini dan menghubungi sebuah jurusan di universitas negeri di Swiss. Karena website menyebutkan, beasiswa diberikan jika diterima di universitas negeri di Swiss. 

Setelah memenuhi beberapa persyaratan termasuk membuat makalah dalam bahasa Jerman, saya diterima di universitas tersebut. Namun, ketika saya mengajukan beasiswa ke Kedubes Swiss, pegawai Kedubes Swiss (orang Indonesia) tersebut menolaknya, karena universitas dan jurusan tersebut tidak termasuk dalam daftar universitas yang bisa diberikan beasiswa. 

Padahal setahun sebelumnya, pegawai yang sama tidak memberikan kriteria jurusan mana yang akan mendapatkan beasiswa, jurusan mana yang tidak bisa mendapatkan beasiswa. Saya rugi menunggu setahun untuk proses pendaftaran dan penerimaan di universitas tersebut dan usia saya sudah tidak bisa mengajukan beasiswa lagi. 

Jelas saya murka sekali dengan pegawai tersebut yang salah memberikan informasi. Setahun kemudian saya menemukan nama pegawai tersebut dalam daftar peserta ujian B2 di Goethe Institut. Jangan-jangan dia ikut ujian  untuk ikut beasiswa tersebut atau mau menikah dengan orang Swiss. Sayang sekali, sama-sama orang Indonesia tetapi tidak mau membantu sama sekali.

Austria juga banyak memberikan beasiswa, tetapi saya tidak tahu dari mana para mahasiswa itu mendapatnya. Sepertinya kebanyakan dari lembaga pemerintah. Austria negara kecil dan tidak terlalu terkenal di Indonesia, sehingga mahasiswa Indonesia yang kuliah di Austria juga tidak sebanyak di Jerman. 

Yang perlu diperhatikan oleh teman-teman jika ingin mendapatkan beasiswa, dari negara atau pihak manapun adalah harus sabar dan rajin mencari informasi. Kedua, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita harus masuk ke dalam sebuah lembaga. Jarang sekali ada beasiswa untuk perorangan. Kecuali orang tersebut telah menjadi tokoh atau "seseorang" di negeri ini. DAAD atau Deutsche Akademiches Austausch Dienst memberikan beasiswa yang bersifat "G to G" atau "Government to Government". Jadi yang diberikan beasiswa adalah dosen dari Indonesia untuk kuliah atau melakukan penelitian di Jerman atau mengundang dosen atau peneliti Jerman untuk memberikan kuliah di Indonesia.

Saya mendapat beasiswa dari pemerintah Austria untuk training kepemiluan selama satu bulan pada Oktober-November 2012 yang lalu. Nama program tersebut adalah International Peacebuilding Training atau IPT yang diselenggarakan oleh Austrian Study Center for Peace and Conflict Resolution atau ASPR. 

Saya mendapatkan beasiswa tersebut karena kerja-kerja saya selama ini di Indonesia sebagai pemantau pemilu yang  tergabung dalam KIPP Indonesia (Komite Indonesia Pemantau Pemilu). Saya bergabung dengan KIPP Indonesia sejak tahun 1998 dan posisi saya sekarang adalah Kepala Departemen Hubungan Internasional. 

Sekarang pun saya sedang mencari beasiswa tetapi tidak untuk memperdalam bahasa Jerman, melainkan untuk Demokrasi dan Kepemiluan. Mungkin saya akan mencari beasiswa ke negara Jerman, mungkin ke negara lain di Eropa. 

Universitas Frankfurt memiliki jurusan yang saya minati dan salah satu pengajar di sana merupakan trainer saya di Austria, jadi bisa menjadi referensi saya. Mungkin juga saya akan melamar ke Manchester University di Inggris, karena ada jurusan yang saya minati di universitas ini dan saya sedang mencoba beasiswa Chevening. Who knows .... :)

Minggu, 13 Januari 2013

Cara mudah menghafal artikel benda

Salah satu masalah dalam bahasa Jerman adalah menghafal kata-kata benda dalam bahasa Jerman. Sebenarnya itu bukan masalah, tapi fakta. Karena masalah selalu berbentuk pertanyaan, yaitu "Bagaimana cara mudah menghafal artikel benda dalam bahasa Jerman?"

Saya memberikan alternatif cara mudah belajar yaitu dengan membuat kartu dari karton buffalo berwarna warni. Pilih 3 warna saja, karena artikel benda dalam bahasa Jerman ada 3 kan? Atau 4 warna juga boleh, yang satu lagi untuk bentuk plural. Ukuran kartunya 5 cm x 8 cm. Lalu saya tuliskan sejumlah kata-kata yang sesuai dengan bab yang sedang dipelajari. 



Saya pilih karton buffalo karena ketebalannya sedang, sehingga kartu tidak cepat lusuh. Kedua, saya membeli karton buffalo atau karton yang sering digunakan untuk cover makalah. Ukurannya biasanya folio, bentuknya sudah lurus dan tidak melengkung seperti kalau kita membeli karton yang masih dalam bentuk gulungan. 

Saya mencoba ini untuk siswa saya yang masih kelas 6 SD dan dia sangat menikmatinya. Padahal biasanya dia paling malas banget kalau belajar bahasa Jerman apalagi disuruh buka buku. 

Hebatnya, dia bisa langsung menebak kalau setiap warna sudah saya klasifikasikan. Saya katakan, belum tentu, tetapi ketika dia berhasil mencari artikel beberapa kartu akhirnya saya buka rahasianya. Sambil memuji kecermatan dia mengasosiasikan warna dengan jenis artikel.

Jadi tugas selanjutnya adalah mencari arti dari kata-kata tersebut. Setelah selesai belajar, eh dia malah minta kartu-kartu tersebut untuk belajar sendiri. Saya berikan, justru senang karena dia menjadi senang belajar. 

Proyek saya selanjutnya adalah membuat kartu untuk belajar merangkai kalimat. Mau tahu, bagaimana proyek akhirnya? Cek terus blog ini ya.....

Rabu, 09 Januari 2013

Biaya sekolah di Jerman


Biaya sekolah di Jerman lebih murah dibandingkan Inggris dan Amerika. Namun, bukan berarti bebas biaya sama sekali, lho. Sampai saat ini ada dua negara bagian yang menetapkan biaya kuliah, sedangkan 14 negara bagian lainnya tidak menerapkan biaya kuliah.

Sejak Musim Dingin 2006/2007, beberapa universitas di Jerman diizinkan untuk menarik pembayaran dari mahasiswa S-1 atau undergraduate. Di peta di bawah ini, kalian bisa lihat negara bagian mana saja yang menerapkan pembayaran tersebut, yaitu negara bagian Niederschsen dan Bayern.



Beberapa universitas mengharuskan mahasiswanya membayar sekitar 500 per semester bagi mahasiswa yang kuliahnya molor atau lebih lama 2  atau 4 semester dibandingkan dengan rekan-rekan kuliahnya.

Oh ya, jangan mencampur adukkan biaya tuition atau biaya kuliah dengan semester contributions (atau kontribusi semester). Keduanya tidak ada hubungannya satu sama lain. Dan jumlahnya tergantung dari universitas masing-masing. Uang ini meliputi biaya administrasi termasuk kontribusi social seperti ASta dan Studentenwerk (semacam senat mahasiswa). Banyak universitas memberikan tiket bagi mahasiswanya untuk menggunakan transportasi public dengan uang dari kontribusi semester ini.

Jika ada yang ingin ditanyakan tentang sekolah di Jerman, silahkan hubungi Pak Yanuar 0812 8489 0000, 0815 8489 0000, dan 021 310 3192.

Biaya kalau ke Salon di Wina, Austria

Saya suka ke salon, biasanya sih untuk potong rambut, creambath, refleksi, atau luluran dan sekali sekali menikur pedikur. Setiap kali ke sebuh negara, saya pati akan mencoba massage atau urutnya, karena saya suka banget diurut, he he he. Bikin badan jadi enteng.

Misalnya waktu ke Thailand saya coba Thai massage yang seperti pemain akrobat, badan kita ditekuk-tekuk oleh pemijatnya (cewek ya) setelah tubuh kita ditotok dengan kepalan tangan atau ujung jari mereka. Tapi ternyata saya lebih suka dengan oil massage-nya Thailand, karena mirip dengan urut di Indonesia. Thai massage gak nendang buat saya.

Sewaktu saya di India, begitu juga. Biayanya agak mahal sedikit daripada yang di Thailand, tapi urutnya tidak oke. Malaysia lumayan lah, yang memijat orang Indonesia juga kok.

Tapi ketika saya ke Austria, saya gak sanggup deh ke salonnya mereka. Muahaaalll banget. 



Daftar harga salon di Westbahnhof, Wina. Pengunjungnya banyak juga, he he he. 

Untuk potong rambut, cuci (keramas) dan diblow biayanya 46 Euro setara dengan Rp 811 ribu. Di Jakarta, 200 ribu - 300 ribu udah bisa semua-mua, dari creambath, potong rambut, luluran, facial, menikur, pedikur de el el. Makanya disabar-sabarin deh nunggu pulang ke Jakarta, baru balas dendam ke salon, ha ha ha. 


Out of Topic: Memperkenalkan website baru


Liebe Freunde, 

Sudah beberapa tahun ini saya mencari uang tambahan melalui website 'paid to review'. Nur zum Spass, aber es lohnt sich gut. 

Caranya, pertama dengan membeli nama domain yang PR-nya sudah mencapai angka 3 atau PR 3.

PR atau singkatan dari Page Rank merupakan ranking dari sebuah nama domain. Semakin tinggi nilai PR, berarti nama domain itu semakin terkenal. Yahoo, Gmail dan Facebook adalah nama domain dengan PR tinggi tentu saja.



Nah, kalau sudah membeli nama domain tersebut, saya membuat blog dan mengconvert nama  blog gratisan tersebut menjadi nama domain berbayar tersebut. Lalu saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan order menulis.

Harga satu artikel review produk biasanya berkisar antara 2.5$ - 10$. Susah-susah gampang, karena mesti ditulis dalam bahasa Inggris yang baik dan benar, plus mesti ditaruh link dan SEO-nya.  Pertama-tama sih ordernya lama dan jarang, tapi kalau sudah beberapa kali kita dapat order, maka order lain pun menyusul. 

Saya sudah berhasil, cuma karena beberapa tahun ini, saya pulang pergi keluar negeri untuk melakukan pemantauan pemilu dan training, urusan ini terbengkalai. Karena order kadang-kadang deadlinenya cuma satu minggu, sedangkan pemantauan pemilu sedang seru-serunya.  

Nah, saya baru kenal sebuah website yang juga membayar kita untuk paid to review. Asyiknya, hanya menuliskan review paling sedikit 2 kalimat, dalam bahasa Inggris tentunya sesuai dengan website yang sedang kita review. Bayarannya? 1 artikel berisi 2 kalimat tersebut, dihargai $ 0.30. Lumayan kan. Saya baru menulis beberapa review, dan sudah dapat $ 2.40. Biasa menulis review dalam bahasa Inggris sebanyak 3 paragraf atau 300 kata, itu mah kecil buat saya, he he he. Artinya, buat yang gak mahir berbahasa Inggris pun, bisa ikutan.    

Yang mau ikutan, silahkan klik website "Paid to Review" yang ada di sebelah kanan atau kiri blog ini. Iseng-iseng berhadiah, kok. Semuanya serba gratis, eh, dapat uang dan dollar pula. Siapa tau kita bisa ke Eropa bareng lewat website ini. 

Selasa, 01 Januari 2013

Bercerita dalam bahasa Jerman dengan buku anak-anak

Buku cerita anak-anak buatan luar negeri memang keren-keren. Bukan saja kualitas gambarnya, tapi juga karena gambar pilihannya mendukung cerita.

Bunda bebek membujuk anaknya turun ke air.


Contohnya buku ini, “Ich bin die kleine Ente”, yang artinya „saya adalah bebek mungil“. Buku anak-anak terbitan Jerman ini merupakan buku favorit keponakan saya, Alya, ketika dia masih berusia 3 tahun. 

Saya memang bisa bahasa Jerman, tapi saya mengajarkannya menyukai buku dengan mula-mula memperkenalkan tokoh-tokoh dalam gambar yaitu bebek-bebek mungil. Alya lalu  mengasosiasikan diri dengan salah satu bebek mungil, bebek mungil lainnya adalah adiknya yang masih bayi dan tentu saja ada bunda bebek!

Mula-mula dia membalik-balik halaman berikutnya untuk mencari bebek mungil dan keluarganya. Setelah puas, baru dia ‘meng-eksplore’ mengenali tokoh-tokoh lain yang ada dalam buku tersebut yaitu dua anak kecil yang sedang mengayuh sampan dan memberikan roti kepada bebek-bebek di danau. Bagaimana bunda bebek mengajari anak-anaknya makan, berarti anak belajar mengenal makanan bebek dan rantai makanan. Demikian juga ketika bebek Alya tersesat dan bertemu kodok, yang berarti anak belajar mengenal satwa lain di sungai atau rawa.

Bunda bebek mengenalkan dan mencari makanan untuk bebek, meskipun kadang-kadang ada  orang  yang suka memberi makan bebek dengan roti seperti dua anak kecil yang bersampan itu. 

Tahun baru, resolusi baru ya? Mungkinkah salah satunya adalah bahasa Jermannya menjadi lebih lancar lagi? Nah, bercerita merupakan salah satu caranya. Carilah buku, poster atau foto atau apapun, lalu mulailah menyebutkan nama-nama benda yang ada dalam gambar tersebut, lalu mulailah bercerita dan boleh juga berimajinasi. 

Kalau punya keponakan atau anak, boleh juga ditiru cara ini, untuk mendorong anak menyukai buku dan nantinya jadi suka membaca. Membaca penting, lho. Orang bilang, buku itu jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya.


Salah satu pendorong anak gemar membaca adalah orang tua atau lingkungan keluarga yang juga membaca. Anak adalah peniru yang baik. Jika orang tuanya tidak membaca tapi menyuruh anak belajar dan membaca, anak akan sulit diminta belajar dan membaca, kecuali kalau memang sudah dasarnya anak suka membaca.

Kebiasaan membaca bisa dimulai dari kecil. Banyak orang tua tidak mau membelikan anak buku, terutama ketika anak masih kecil dengan alasan anak belum paham membaca, nanti dirobek dan sebagainya.

Betul, anak belum bisa membaca, justru itulah tugas kita mengajari anak membaca. Alasan kedua betul juga, anak akan merobek buku tersebut. Karena anak belum tau apa itu buku, manfaat dan terutama cara menggunakannya. Untuk alasan ini, ketika anak terlalu kecil, kita bisa menggunakan buku kain, jadi anak bisa menggigit atau merobek tapi bukunya tetap baik-baik saja.

Nah, jika sudah punya buku yang akan dibaca, baik buku betulan atau buku kain, duduklah bersama anak dan bukalah buku bersama-sama. Jangan terpaku pada teks bacaan, apalagi kalau teks bacaannya dalam bahasa asing. Anak usia 3-4 tahun tidak tertarik dengan alphabet, tetapi pada gambar, warna dan bentuk-bentuk dalam gambar. Berimajinasilah dalam bercerita. Karena itu carilah buku cerita yang berwarna warni dan memiliki gambar yang mendukung cerita. 

Ikuti FB Rumah Barley, ya.

Guten Tag,  Hari ini saya ingin mempromosikan akun FB saya yaitu Rumah Barley  Akun ini khusus tentang belajar bahasa Jerman dan Jerman.  Di...