Kamis, 29 Mei 2014

Peralatan masak dalam bahasa Jerman

Salah satu pesan saya untuk murid yang akan berangkat ke Jerman adalah belajar memasak. Kenapa? Karena harga masakan di Jerman cukup mahal dan menguras kantong mahasiswa. Tidak perlu masakan yang mewah a la Chef restoran, cukup yang sederhana saja. Sewaktu saya di Austria Oktober-November 2012, saya cukup "mabok" dengan pengeluaran makan dan minum saya, karena sekali makan, saya menghabiskan uang Rp 80 ribu-120 ribu rupiah. Dan kalau makan di luar, saya menghabiskan uang Rp 200 ribu sekali makan. Padahal yang dimakan cuma spaghetti atau pizza atau chicken wings. Memang sih porsinya besar, jadi kadang saya share dengan teman yang lain. 

Nah, berhubung tidak mungkin membawa alat masak, ada baiknya kita mengenal nama-nama peralatan makan Jerman. Supaya ketika di sana, agak lebih mudah mencari di toko. Paling tidak, ini akan membantu kita ketika membaca teks tentang Küche, atau membaca di majalah. Biasanya kalau belajar tentang kalimat passiv, contoh yang akan keluar adalah cara memasak makanan. Ini nama peralatan masak di Jerman. 



Selain mengenal nama-nama peralatan masak ini, kita juga bisa belajar mengenai komposita atau kata gabung. Dalam bahasa Jerman kita akan menemukan banyak kata gabung, biasanya terdiri dari dua kata, tetapi bukan tidak mungkin kita akan menemukan komposita yang terdiri dari tiga, empat bahkan lima kata. Nama lain dari komposita adalah "Zusammensetzung".

Pembentukan komposita bisa bermacam-macam, antara lain:

1. verben (kata kerja) + Nomen (kata benda)
das Hackbrett = talenan
berasal dari kata kerja 'hacken" (mencincang) dan kata benda 'das Brett' (papan)
Pola yang sama adalah das Hackmesser. 

2. kata benda + kata benda
der Flaschenöffner = pembuka botol
berasal dari kata benda 'die Flasche' (botol) dan kata benda 'der Öffner" (pembuka atau alat untuk membuka)
Pola yang sama adalah der Holzlöffel 

Karena komposita membentuk kata benda baru, maka kata benda tersebut harus memiliki artikel (der, die atau das). Artikel yang digunakan adalah artikel benda yang leyang letaknya paling akhir. Dalam mengartikan komposita dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia membacanya dengan cara mundur. Misalnya 'das Hackmesser' yaitu pisau cincang atau pisau yang digunakan untuk mencincang.

Bagaimana dengan pola pembentukan kata komposita alat masak lainnya? Silahkan menjawabnya :D 

Mengintip kampus di Jerman

Menjelang akhir tahun pelajaran seperti ini, banyak siswa SMA dan SMK mulai berburu universitas impiannya. Banyak yang bahkan sudah jauh-jauh hari meneliti universitas dan kalau perlu mengunjungi kampus tersebut. Tetapi, bagaimaa jika ingin kuliahnya di Jerman? Selain meneliti via internet, bisa juga dengan berkunjung langsung ke sana. 

Saya di depan Universitas Wina, salah satu universitas tertua di Austria

Ada sejumlah orang tua murid yang meminta hal ini. Mereka ingin meneliti dan melihat-lihat dulu keadaan di Jerman sebelum mengirimkan anaknya untuk kuliah di Jerman. Hal ini yang membuat kami dari Lado Educare mengadakan semacam tur untuk berkunjung ke kampus-kampus di Jerman. 

Selama ini banyak orang atau keluarga di Indonesia tur keliling Eropa saja, jadi kenapa tidak bagi para orang tua ini untuk ke Eropa khususnya Jerman sekaligus melihat tempat perkuliahan anaknya nanti. 

Paket tur yang akan diberikan nanti akan disesuaikan dengan keinginan orang tua dan anak yang akan menjadi calon mahasiswa. Karena itu, ada baiknya, jika orang tua dan anak sudah mempunyai bayangan kota dan universitas yang akan dikunjungi. Tentu saja, kami akan memberikan masukan mengenai kota dan universitas yang diminati. 

Jika berminat, silahkan hubungi pak Yanuar 0812 8489 0000, email: yanuarbudiarso@yahoo.com dan pipit.glowing@gmail.com.   

Rabu, 07 Mei 2014

Uang Jaminan untuk bersekolah di Jerman

Salah satu yang harus dipersiapkan oleh siswa atau orang yang akan kuliah di Jerman adalah uang jaminan. Uang jaminan tersebut sebesar 8090 Euro. Kurs hari ini (8/5/2014) 1 Euro = Rp 16.169,- jadi kalian bisa menghitung sendiri, berapa uang jaminan yang harus dimiliki di bank agar bisa kuliah di Jerman. Cukup tinggi juga ya, waktu saya ke Austria Oktober 2012, kurs Euro masih Rp 12.300,-. Hiks.

Uang jaminan ini diblok (Blocked Funding) dan menjadi syarat untuk mendapatkan visa ke Jerman. Uang jaminan ini dimasukkan ke Deutsche Bank. Sekitar 15 - 20 tahun lalu, uang jaminan ini bisa berupa akun di bank mana saja di Indonesia. Begitu visa keluar, orang tua murid bisa mengambilnya kembali. Beberapa tahun kemudian, peraturannya berubah. Uang jaminan tersebut hanya bisa berupa akun di 3 bank utama di Indonesia, bank Mandiri, bank BCA dan satu bank lagi yang saya lupa namanya. Uang jaminan tersebut bisa diambil setelah si anak tiba di Jerman. Sudah lima tahun ini (kalau tidak salah), akun rekening untuk uang jaminan ini harus akun di Deutsche Bank. Uang jaminan ini diblok, tidak bisa diambil di Indonesia, tetapi dikirim setiap bulannya ke rekening anak atau siswa yang kuliah di Jerman. Tujuannya agar mahasiswa terjamin dan tidak terlunta-lunta ketika kuliah, khususnya di tahun pertama.  



Bagaimana jika tidak punya uang sebanyak itu, tapi hati berkeinginan untuk kuliah di Jerman? Yang pertama tentu saja mencari beasiswa. Sepengetahuan saya, beasiswa ke Jerman untuk S1 atau level Bachelor Degree sangat jarang. Kalau level S2 atau S3 ada tapi biasanya diberikan melalui lembaga-lembaga pemerintah seperti kementerian atau universitas, bukan perorangan. 

Alternatif yang kedua adalah patungan atau saweran. Saya mendapat informasi ini dari orang tua murid beberapa tahun yang lalu. Sejak awal, keluarga besar mereka sudah bertekad bahwa anak-anak mereka akan kuliah di luar negeri. Jadi mereka patungan untuk uang jaminan ini. Jumlah uang saweran ini tergantung dari kemampuan masing-masing. Misalnya keluarga A yang mempunyai kelebihan rezeki patungan 20 juta, keluarga B yang ekonominya terbatas patungannya sekitar 5 juta dan seterusnya. Uang tersebut menjadi uang bergulir, artinya ketika anak keluarga A sudah cukup usia masuk kuliah, maka anak keluarga A menggunakan uang jaminan tersebut. Setahun kemudian, anak keluarga C yang akan masuk kuliah dan butuh uang jaminan tersebut dan seterusnya. Dan mereka sudah mempraktekkan hal tersebut. Saya pikir ini ide yang baik dan patut ditiru. Toh, Indonesia kan dikenal sebagai keluarga yang gotong royong. Tahun lalu, saya memperkenalkan ide ini kepada keluarga besar saya, hampir semuanya setuju, tetapi ternyata belum bisa berjalan. Mudah-mudahan di keluarga besar kalian, hal ini bisa berjalan. 

Alternatif ketiga adalah menjadi AuPair atau kakak angkat pada sebuah keluarga di Jerman. Saya sudah membuat beberapa artikel mengenai AuPair di blog saya ini, jadi silahkan dilihat-lihat artikel tersebut. Intinya AuPair adalah kakak angkat yang menjaga adik-adiknya, jadi bukan pembantu atau baby sitter seperti di Indonesia, ya. Dan ada aturan hukum serta kontrak yang mengikat kedua belah pihak. Bekerja sebagai AuPair ini bisa menjadi batu loncatan untuk kuliah di Jerman. Ada tulisan mengenai AuPair yang cukup menarik, silahkan klik di sini. Ada seorang teman kuliah seangkatan saya yang menjadi AuPair di Jerman tahun 90-an. Karena dia sudah bisa bahasa Jerman, maka di waktu senggang, dia kuliah di Universitas Muenchen. Sekarang makin banyak mahasiswa UNJ (Jakarta) dan UNY (Jogja) yang ke Jerman sebagai AuPair. Karena mereka tahu, ke Jerman dengan modal murah adalah dengan menjadi AuPair. Bonusnya bisa jalan-jalan keliling Jerman (di saat off), kursus bahasa Jerman (dibiayai orang tua angkat), bisa praktek bahasa Jerman (tentu saja :D) dan lain-lainnya.  

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai program AuPair di lembaga kami, silahkan menghubungi Mas Uday di 021 2511535, pak Yanuar di 0812 8489 0000, 0815 8489 0000. Tanya-tanya saja dulu agar mendapat informasi yang jelas.