Selasa, 23 September 2014

Dicari guru les privat bahasa Jerman

Saya mohon maaf kepada mereka yang mau belajar bahasa Jerman dengan saya, karena belum bisa memenuhi permintaan untuk datang ke rumah, termasuk mengirim guru lain ke rumah atau ke kantor. Jadwal saya makin lama makin padat, demikian juga guru-guru di tempat kami. 

Karena itulah, berhubung banyaknya permintaan untuk les privat, di mana guru datang ke rumah atau kantor, maka Lado Educare membuka lowongan guru les privat bahasa Jerman.

Saya sedang mengajar kelas A-1 di Lado Educare

Syarat-syaratnya lulusan S-1 jurusan bahasa Jerman, memiliki sertifikat bahasa Jerman minimal B2, punya pengalaman mengajar bahasa Jerman, lebih baik lagi jika sudah biasa dengan buku Studio d A1. Lokasi rumah bisa di mana saja, karena lokasi rumah siswa biasanya menyebar di Jakarta dan sekitarnya. 

Jika tertarik dan memenuhi syarat, kirimkan lamaran Anda beserta CV dan fotokopi ijazah S-1 dan sertifikat bahasa Jerman ke 

Ibu Pipit Apriani
Lado Educare
Gd. Arthaloka, lantai 7, suite 710
Jl. Jend. Sudirman, Kav 2, Jakarta Pusat

Nanti Anda akan kami hubungi. Dan mohon tidak datang langsung ke kantor kami, tetapi cukup mengirimkan lamaran saja via pos. Jangan lupa no kontak yang bisa dihubungi, ya. 

  

Jumat, 27 Juni 2014

Sertifikat C 1 dan C2 palsu

Beberapa hari lalu, saya ke Goethe-Institut Jakarta dan melihat pengumuman ini, yaitu pemalsuan sertifikat C1 dan C2 yang dilakukan oleh (calon) mahasiswa Indonesia. 



Selalu saja ada orang yang mau main pintas yang akhirnya merugikan tidak hanya diri sendiri, tetapi juga orang lain termasuk mahasiswa dan calon mahasiswa yang akan kuliah di Jerman. 

Kalau cuma bikin sertifikat apapun, gampang banget. Phoshop dan sejumlah program komputer lainnya banyak bertebaran. Yang sulit sekaligus mudah mendeteksinya adalah kemampuan si pemilik sertifikat dalam menguasai bahasa Jerman. Orang yang mendapatkan sertifikat C1 dan C2 berarti kemampuan bahasa Jerman orang tersebut sudah hampir sama atau mendekati dengan penutur asli. Na, dengan demikian, akan cepat ketahuan keaslian sertifikatnya kalau menunjukkan kepemilikan sertifikat C1 tapi bicaranya masih a e o.

Saya sendiri baru memiliki sertifikat ZMP yang setara dengan B2, itupun puluhan tahun yang lalu. Kalau saya jadi melanjutkan S3 ke Jerman, maka saya harus memperbaharuinya. Untuk kuliah S2 dan S3, yang bukan berbahasa Jerman, harus ikut ujian DAF yang setara dengan ujian B2 ke atas. Beberapa hari lalu, saya dikirimi informasi beasiswa riset PhD dari sebuah lembaga akademis di Jerman dan salah satu syaratnya adalah sertifikat C1. 

Pengkriteriaan jenjang mulai dari A1 hingga C2 dibuat oleh sejumlah besar profesor dan ahli bahasa se-Eropa selama bertahun-tahun. Jadi kalau orang Indonesia apalagi masih berstatus mahasiswa mau main-main dengan berbagai sertifikat palsu, ancaman tidak bisa kuliah di Jerman seumur hidup adalah sesuatu yang patut. 
    


Kamis, 29 Mei 2014

Peralatan masak dalam bahasa Jerman

Salah satu pesan saya untuk murid yang akan berangkat ke Jerman adalah belajar memasak. Kenapa? Karena harga masakan di Jerman cukup mahal dan menguras kantong mahasiswa. Tidak perlu masakan yang mewah a la Chef restoran, cukup yang sederhana saja. Sewaktu saya di Austria Oktober-November 2012, saya cukup "mabok" dengan pengeluaran makan dan minum saya, karena sekali makan, saya menghabiskan uang Rp 80 ribu-120 ribu rupiah. Dan kalau makan di luar, saya menghabiskan uang Rp 200 ribu sekali makan. Padahal yang dimakan cuma spaghetti atau pizza atau chicken wings. Memang sih porsinya besar, jadi kadang saya share dengan teman yang lain. 

Nah, berhubung tidak mungkin membawa alat masak, ada baiknya kita mengenal nama-nama peralatan makan Jerman. Supaya ketika di sana, agak lebih mudah mencari di toko. Paling tidak, ini akan membantu kita ketika membaca teks tentang Küche, atau membaca di majalah. Biasanya kalau belajar tentang kalimat passiv, contoh yang akan keluar adalah cara memasak makanan. Ini nama peralatan masak di Jerman. 



Selain mengenal nama-nama peralatan masak ini, kita juga bisa belajar mengenai komposita atau kata gabung. Dalam bahasa Jerman kita akan menemukan banyak kata gabung, biasanya terdiri dari dua kata, tetapi bukan tidak mungkin kita akan menemukan komposita yang terdiri dari tiga, empat bahkan lima kata. Nama lain dari komposita adalah "Zusammensetzung".

Pembentukan komposita bisa bermacam-macam, antara lain:

1. verben (kata kerja) + Nomen (kata benda)
das Hackbrett = talenan
berasal dari kata kerja 'hacken" (mencincang) dan kata benda 'das Brett' (papan)
Pola yang sama adalah das Hackmesser. 

2. kata benda + kata benda
der Flaschenöffner = pembuka botol
berasal dari kata benda 'die Flasche' (botol) dan kata benda 'der Öffner" (pembuka atau alat untuk membuka)
Pola yang sama adalah der Holzlöffel 

Karena komposita membentuk kata benda baru, maka kata benda tersebut harus memiliki artikel (der, die atau das). Artikel yang digunakan adalah artikel benda yang leyang letaknya paling akhir. Dalam mengartikan komposita dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia membacanya dengan cara mundur. Misalnya 'das Hackmesser' yaitu pisau cincang atau pisau yang digunakan untuk mencincang.

Bagaimana dengan pola pembentukan kata komposita alat masak lainnya? Silahkan menjawabnya :D 

Mengintip kampus di Jerman

Menjelang akhir tahun pelajaran seperti ini, banyak siswa SMA dan SMK mulai berburu universitas impiannya. Banyak yang bahkan sudah jauh-jauh hari meneliti universitas dan kalau perlu mengunjungi kampus tersebut. Tetapi, bagaimaa jika ingin kuliahnya di Jerman? Selain meneliti via internet, bisa juga dengan berkunjung langsung ke sana. 

Saya di depan Universitas Wina, salah satu universitas tertua di Austria

Ada sejumlah orang tua murid yang meminta hal ini. Mereka ingin meneliti dan melihat-lihat dulu keadaan di Jerman sebelum mengirimkan anaknya untuk kuliah di Jerman. Hal ini yang membuat kami dari Lado Educare mengadakan semacam tur untuk berkunjung ke kampus-kampus di Jerman. 

Selama ini banyak orang atau keluarga di Indonesia tur keliling Eropa saja, jadi kenapa tidak bagi para orang tua ini untuk ke Eropa khususnya Jerman sekaligus melihat tempat perkuliahan anaknya nanti. 

Paket tur yang akan diberikan nanti akan disesuaikan dengan keinginan orang tua dan anak yang akan menjadi calon mahasiswa. Karena itu, ada baiknya, jika orang tua dan anak sudah mempunyai bayangan kota dan universitas yang akan dikunjungi. Tentu saja, kami akan memberikan masukan mengenai kota dan universitas yang diminati. 

Jika berminat, silahkan hubungi pak Yanuar 0812 8489 0000, email: yanuarbudiarso@yahoo.com dan pipit.glowing@gmail.com.   

Rabu, 07 Mei 2014

Uang Jaminan untuk bersekolah di Jerman

Salah satu yang harus dipersiapkan oleh siswa atau orang yang akan kuliah di Jerman adalah uang jaminan. Uang jaminan tersebut sebesar 8090 Euro. Kurs hari ini (8/5/2014) 1 Euro = Rp 16.169,- jadi kalian bisa menghitung sendiri, berapa uang jaminan yang harus dimiliki di bank agar bisa kuliah di Jerman. Cukup tinggi juga ya, waktu saya ke Austria Oktober 2012, kurs Euro masih Rp 12.300,-. Hiks.

Uang jaminan ini diblok (Blocked Funding) dan menjadi syarat untuk mendapatkan visa ke Jerman. Uang jaminan ini dimasukkan ke Deutsche Bank. Sekitar 15 - 20 tahun lalu, uang jaminan ini bisa berupa akun di bank mana saja di Indonesia. Begitu visa keluar, orang tua murid bisa mengambilnya kembali. Beberapa tahun kemudian, peraturannya berubah. Uang jaminan tersebut hanya bisa berupa akun di 3 bank utama di Indonesia, bank Mandiri, bank BCA dan satu bank lagi yang saya lupa namanya. Uang jaminan tersebut bisa diambil setelah si anak tiba di Jerman. Sudah lima tahun ini (kalau tidak salah), akun rekening untuk uang jaminan ini harus akun di Deutsche Bank. Uang jaminan ini diblok, tidak bisa diambil di Indonesia, tetapi dikirim setiap bulannya ke rekening anak atau siswa yang kuliah di Jerman. Tujuannya agar mahasiswa terjamin dan tidak terlunta-lunta ketika kuliah, khususnya di tahun pertama.  



Bagaimana jika tidak punya uang sebanyak itu, tapi hati berkeinginan untuk kuliah di Jerman? Yang pertama tentu saja mencari beasiswa. Sepengetahuan saya, beasiswa ke Jerman untuk S1 atau level Bachelor Degree sangat jarang. Kalau level S2 atau S3 ada tapi biasanya diberikan melalui lembaga-lembaga pemerintah seperti kementerian atau universitas, bukan perorangan. 

Alternatif yang kedua adalah patungan atau saweran. Saya mendapat informasi ini dari orang tua murid beberapa tahun yang lalu. Sejak awal, keluarga besar mereka sudah bertekad bahwa anak-anak mereka akan kuliah di luar negeri. Jadi mereka patungan untuk uang jaminan ini. Jumlah uang saweran ini tergantung dari kemampuan masing-masing. Misalnya keluarga A yang mempunyai kelebihan rezeki patungan 20 juta, keluarga B yang ekonominya terbatas patungannya sekitar 5 juta dan seterusnya. Uang tersebut menjadi uang bergulir, artinya ketika anak keluarga A sudah cukup usia masuk kuliah, maka anak keluarga A menggunakan uang jaminan tersebut. Setahun kemudian, anak keluarga C yang akan masuk kuliah dan butuh uang jaminan tersebut dan seterusnya. Dan mereka sudah mempraktekkan hal tersebut. Saya pikir ini ide yang baik dan patut ditiru. Toh, Indonesia kan dikenal sebagai keluarga yang gotong royong. Tahun lalu, saya memperkenalkan ide ini kepada keluarga besar saya, hampir semuanya setuju, tetapi ternyata belum bisa berjalan. Mudah-mudahan di keluarga besar kalian, hal ini bisa berjalan. 

Alternatif ketiga adalah menjadi AuPair atau kakak angkat pada sebuah keluarga di Jerman. Saya sudah membuat beberapa artikel mengenai AuPair di blog saya ini, jadi silahkan dilihat-lihat artikel tersebut. Intinya AuPair adalah kakak angkat yang menjaga adik-adiknya, jadi bukan pembantu atau baby sitter seperti di Indonesia, ya. Dan ada aturan hukum serta kontrak yang mengikat kedua belah pihak. Bekerja sebagai AuPair ini bisa menjadi batu loncatan untuk kuliah di Jerman. Ada tulisan mengenai AuPair yang cukup menarik, silahkan klik di sini. Ada seorang teman kuliah seangkatan saya yang menjadi AuPair di Jerman tahun 90-an. Karena dia sudah bisa bahasa Jerman, maka di waktu senggang, dia kuliah di Universitas Muenchen. Sekarang makin banyak mahasiswa UNJ (Jakarta) dan UNY (Jogja) yang ke Jerman sebagai AuPair. Karena mereka tahu, ke Jerman dengan modal murah adalah dengan menjadi AuPair. Bonusnya bisa jalan-jalan keliling Jerman (di saat off), kursus bahasa Jerman (dibiayai orang tua angkat), bisa praktek bahasa Jerman (tentu saja :D) dan lain-lainnya.  

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai program AuPair di lembaga kami, silahkan menghubungi Mas Uday di 021 2511535, pak Yanuar di 0812 8489 0000, 0815 8489 0000. Tanya-tanya saja dulu agar mendapat informasi yang jelas. 

Selasa, 29 April 2014

Latihan berbicara dalam bahasa Jerman

Satu keterampilan yang diimpi-impikan oleh pembelajar bahasa Jerman adalah "bisa bercakap-cakap dalam bahasa Jerman". Bagaimana caranya? Yang pertama, harus menguasai kosa kata bahasa Jerman yang cukup, kedua, harus menguasai tata bahasa Jerman yang cukup. Yang ketiga adalah menggunakannya.

Penguasaan kosa kata dan tata bahasa Jerman tentu saja tergantung dari level-nya. Kalau masih level A1, maka kosa kata dan tata bahasanya sederhana dan terbatas. Semakin tinggi levelnya, (harusnya) kosa katanya semakin banyak dan tata bahasanya semakin kompleks. Jadi, harus banyak membaca, belajar dan berlatih.

Fr. Rika dan dua siswanya di Grand Indonesia.

Sewaktu jaman kuliah, saya dan teman-teman suka ke mall (he he he, siapa yang tak suka dengan mall). Pulang kuliah kami jalan-jalan ke mall mana saja tergantung keinginan kami saat itu. Tahun 90-an, mall yang kerap kami kunjungi adalah Matahari pasar Senen (waktu itu belum ada Atrium Senen) dan Arion Rawa Mangun. Banyak baju-baju bagus di sana, lumayan untuk cuci mata tapi kantong masih bolong, maklum mahasiswa, uang masih sangat terbatas. Jadi kami mengomentari baju-baju yang ada di sana dalam bahasa Jerman. "Oh, bajunya schön, tapi harganya teuer." Masih compar campur. Lama-lama, komentar kami adalah "Das Kleid ist schön, aber schade, der Preis ist auch teuer."

Gunakan saja kosa kata yang ada dan tata bahasa yang dikuasai. Kalau pemula, jangan membuat kalimat sendiri, asal comot dari kamus, hasilnya nanti ngaco dan diketawain oleh orang Jerman atau malah bikin bingung. 

Misalnya,
Ich bin frei = Saya sedang kosong. Maksudnya, saya sedang tidak ada kesibukan.
Ich habe frei = Saya sedang kosong. Maksudnya, saya sedang tidak punya pasangan alias jomblo.

Dalam foto di atas, Fr. Rika membawa dua muridnya jalan-jalan ke mall Grand Indonesia yang letaknya tidak jauh dari kantor Lado Educare. Di sana, selain jalan-jalan tentu saja berlatih bahasa Jerman. Misalnya menyebut nama makanan, nama baju atau bahkan yang jahil adalah mengomentari orang yang sedang jalan-jalan di mall tersebut. Misalnya, das Mädchen sieht gut aus. Sie hat shöne Haare. Ihre Schuhe sind schwarz. Etc. 

Menarik sekali kegiatan ini. berhubung ada gurunya langsung, maka jika ada yang salah bisa langsung dikoreksi. Tetapi jika tidak ada guru, maka sesama pembelajar juga bisa saling mengkoreksi. Dicatat jika tidak menemukan pemecahan, lalu ditanya ke guru bahasa Jerman masing-masing. 

Jika ingin les bahasa Jerman, silahkan menghubungi Pak Uday 021-251 1535. Kalau ingin konsultasi untuk sekolah di Jerman silahkan menghubungi pak Yanuar 0812 8489 0000, 0815 8489 0000.

Rabu, 23 April 2014

Mengarang dengan tema "Keluarga"

Salah satu tugas sekolah yang agak sulit adalah menulis atau mengarang. Jangankan dalam bahasa Jerman, bahasa Indonesia saja susahnya minta ampun. Bagaimana cara menulis atau mengarang? Jawaban satu-satunya adalah "menulis dan menulis". Semakin sering menulis, maka kita akan semakin terlatih mengungkapkan pikiran kita. 

Kali ini, saya akan mengajarkan latihan menulis atau mengarang dengan tema "Keluarga" atau "Familie". Pertama-tama, tentu saja kita harus memiliki kosa kata yang cukup mengenai "Familie".  


der Groβvater = kakek
die Groβmutter = nenek 
der Vater = ayah
die Mutter = ibu
der Onkel = paman, om, adik atau kakak dari ayah atau ibu
die Tante = tante, bibi, adik atau kakak dari ayah atau ibu 
der Sohn = putra, anak laki-laki
die Tochter = putri, anak perempuan
das Baby = bayi (perempuan atau laki-laki)

Di Eropa atau Amerika, hewan peliharaan seperti anjing dan kucing dianggap anggota keluarga juga. 
der Hund = anjing
die Katze = kucing

Kedua, buat skenario atau draft atau rancangan karangan. Kita semua punya keluarga, jadi tentu tidak sulit untuk membuat rancangan ini. 

Misalnya, tokoh cerita bernama Amir. Amir mempunyai ayah yang bernama Hasan, ibunya bernama Anita. Amir mempunyai adik perempuan bernama Sarah, kakak laki-laki bernama Bagas. Oman adalah paman Amir dan istrinya bernama Ratna. 

Nah, dengan rencana karangan itu kita melangkah ke karangan bahasa Jerman. 

Ich heisse Amir, mein Vater heisst Hasan und meine Mutter heisst Anita. Mein Vater arbeitet als Beamter. Meine Mutter arbeitet auch, sie ist Lehrerin. Meine Schwester heisst Sarah und mein Bruder heisst Bagas. Oman ist mein Onkel. Er ist der Bruder von meinem Vater. Er it verheiratet. Seine Frau heisst Ratna. Sie wohnen in Bandung. Aber unser Haus ist in Jakarta. 

Nah, ternyata tidak terlalu sulit kan mengarang dalam bahasa Jerman? 

Tips: Jangan memindahkan mentah-mentah kata dalam kamus begitu saja ke dalam karangan. Karena bisa jadi yang kita tulis adalah bahasa Jerman, tetapi orang Jerman penutur asli tidak menggunakan kalimat atau kata-kata tersebut untuk maksud tersebut. Misalnya apa? Nanti akan saya tulis dalam artikel berikutnya.